Persalinan Normal

baby-both-hands_434Penatalaksanaan Ibu Bersalin Normal

        Penatalaksanaan ibu bersalin normal kala I sampai dengan kala IV

a.    Asuhan kala I

Menurut depkes RI (2004), asuhan kala I yaitu :

1)      Melakukan pengawasan menggunakan partograf mulai pembukaan 4 – 10 cm.

2)    Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan    serviks melalui pemeriksaan dalam .

3)    Menilai dan mencatat kondisi ibu dan bayi yaitu :

Ø  DJJ setiap 30 menit.

Ø  Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus tiap 30 menit

Ø  Nadi setiap 30 menit

Ø  Pembukaan serviks tiap 4 jam

Ø  Penurunan kepala tiap 4 jam

Ø  Tekanan darah tiap 4 jam

Ø  Temperature tubuh timpat 2 jam

Ø  Produksi urin, aseton, dan protein setiap 2 jam.

4)   Pengawasan 10, menurut saifudin (2002) meliputi :

Ø  Keadaan umum

Ø  Tekanan darah

Ø  Nadi

Ø  Respirasi

Ø  Temperature

Ø  His/ kontraksi

Ø  DJJ

Ø  Pengluaran pevaginam

Ø  Bandle ring

Ø  Tanda – tanda kala II :

Menurut Azwar (2007), tanda tanda kala II :

(1)   Ibu mempunyai untuk meneran

(2)   Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rectum dan vaginanya

(3)   Perineum menonjol

(4)   Vulva, vagina spingter anal membuka

Menurut saifudin ( 2002 ), asuhan kala I adalah :

(1)   Bantulah ibu dalam poersalinan jika ibu tampak gelisah, ketakutan dan  kesakitan :

Ø  Berikan dukungan dan yakinkan dirinya.

Ø  Berikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalinannya.

Ø  Dengarkanlah keluhannya

Ø  Dan cobalah untuk lebih sensitive

(2)   Jika ibu tersebut tampak kesakitan, dukungan atau asuhan yang dapat diberikan :

Ø  Lakukan berubahan posisi

Ø  Posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi jika ibu ingin di tempat tidur sebaiknya di anjurkan  tidur miring ke kiri

Ø  Sarankan ibu untuk berjalan

Ø  Ajaklah orang untuk menemaninnya ( suami/ ibunya ) untuk memijat dan menggosok punggungnya atau membasuh mukenya di antara kontraksi.

Ø  Ibu di perbolehkan melakukan aktivitas sesuai dengan kesanggupannya.

Ø  Ajarkan kepadanya teknik bernafas : ibu di minta untuk menarik nafas panjang, menahan nafasnya sebentar kemudian di lepaskan dengan cara meniup udara keluar sewaktu terasa kontraksi.

(3)   Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan, antara lain menggunakan penutup atau tirai, tidak menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan dan seijin pasien/ibu.

(4)   Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta prosedur yang akan di laksanakan dan hasil2 pemeriksaan.

(5)   Memperbolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya setelah BAK/BAB.

(6)   Ibu bersalin biasanya merasa panas dan bnyak keringat, atasi dengan cara :

Ø  Gunakan kipas angin atau AC dalam kamar.

Ø  Menggunakan kipas biasa.

Ø  Menganjurkan ibu untuk mandi sebelumnya.

(7)   Untuk memenuhi kebutuhan energy dan mencegah dehidrasi, berikan cukup minum.

(8)   Sarankan ibu untuk berkemih sesegera mungkin.

b.   Partograf

Partograf adalah alat untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam menentukan keputusan dalam penatalaksanaan.( saifudin, abdul bari. 2002).

Partograf adalah alat bantu yang di gunakan selama fase aktif persalinan ( depkes RI, 2004).

Menurut depkes RI (2004), tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:

1.      Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai serviks melalui pemeriksaan dalam.

2.      Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan dengan normal. Dengan demikian, juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama.

Menurut depkes RI (2004) partograf harus digunakan :

1.      Untuk semua ibu dalam fase aktif kala I persalinan sebagai elmen penting asuhan  persalinan. partograf harus di gunakan, baik ataupun adanya penyulit.

2.      Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau, menevaluasi dan membuat keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan penyulit.

3.      Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat ( rumah, puskesmas,klinik bidan swasta, rumah sakit,DLL).

4.      Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu sekama pesalinan dan kelahiran ( dr. spesialis obstetric ginekologi, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteran).

Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinnya mendapatkan asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu juga mecegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.

Mencatat temuan pada partograf :

1.      Informasi tentang ibu

Lengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai : “jam” pada partograf) dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten persalinan catat waktu terjadinya pecah ketuban.

2.      Kesehatan dan kenyamanan janin

Kolom,lajur dan skala pada partograf adalah untuk pencatatn DJJ, air ketuban dan penyusupan ( kepala janin ).

a)      DJJ

Dengan menggunakan metode seperti yang di urauikan pada bagian pemeriksaan fisik, nilai dan catat DJJ setiap 30 menit ( lebih sering jika ada tanda – tanda gawat janin).

Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal 180. Tetapi,penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di

b)      Warna dan adanya air ketuban

Nilai air ketuban setiap kali di lakukan pemeriksaan dalam, dan nilai warna air ketuban pecah. Catat temuan – temuan dalam kotak yang sesuai  di bawah lajur DJJ.

Gunakan – gunakan lambing berikut ini :

Ø  U      : ketuban utuh (belum pecah)

Ø  J        : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

Ø  M      : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium

Ø  D      : ketuban sudah pecah dan air ketuan bercampur darah

Ø  K      :ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (“kering”)

       c)      Molase (penyusupan kepala janin)

Penyusupan adalah indicator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala yang saling menyusup atau tumpang tindih, menunjujkan kemungkinan adanya  Chepalo Pelvic Disporportion (CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan benar – benar terjadi jika tulang kepala yang saling menyusup tidak dapat di pusahkan. Apabila ada dugaan disproporsi tulang panggul, penting sekali untuk tetap memantau kondisi janin dan kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu tangan tanda – tanda disproporsi tulang panggul ke fasilitas kesehatan yang memadai. Gunakan lambang lambang berikut :

0          : tulang – tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat di    palpasi.

1           : tulang – tulang kepala janin hanya saling bersentuhan.

2          : tulang – tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat di  pisahkan.

3          : tulang – tulang kepala janin saling tumpang tindih da tidak dapat dipisahkan

3.      Kemajuan persalinan

Menurut Depkes (2004), kolom dan lajr kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan.

a)      Pembukaan serviks

Dengan menggunakan metode yang di jelaskan di bagian pemeriksaan fisik dalam bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering di lakukan jika ada tanda – tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil temuan dari setiap pemeriksaan. Tanda “X” harus di tulis digaris waktu yang sesuai dengan jalur besarnya pembukaan serviks. Beri tanda untuk temuan – temuan dari pemeriksaan dalam yang di lakukakn pertama kali selama fase aktif persalinan di garis waspada. Hubungkan tanda “X” dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh (tidak terputus).

b)      Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin.

Dengan menggunakan metode yang di jelaskan di bagian fisik bab ini. Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam(setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada tanda – tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian terbawah atau presentasi janin.

Pada persalinan normal, kemajuan pembukaan serviks umumnya di ikuti dengan turunnya bagian terbawah/presentasi janin baru terjadi setelah pembukaan serviks sebesar & cm.

c)      Garis waspada dan garis bertindak

Garis waspada di mulai pada pembukaan serviks 4 jam cm dan berakhir pada titik dimana pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan selama fase aktif persalinan harus di mulai di garis waspada. Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada. Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam), maka harus di pertimbangkan adanya penyulit (misalnya fase aktif yang memanjang, macet, dll). Pertimbangkan pula adanya tindakan intervensi yang di perlukan, misalnya persiapan rujukan ke fasilitaskesehatan rujukan (rumah sakit atau puskesmas) yang mampu menangani penyulit dan kegawat daruratan obsetetri. Garis bertindak tertera sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau 4 lajur ke sisi kanan. Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan bertindak, maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan harus dilakukan. Ibu harus tiba di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampui.

4.      Jam dan waktu

a)      Waktu mulainya fase aktif persalinan

Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak – kotak yang di beri angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainnya fase aktif persalinan.

b)      Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan

Di bawah lajur kotak untuk waktu misalnya fase aktif, tertera kotak – kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyebabkan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu 30 menit pada lajur kotak di atasnya atau lajur kontraksi di bawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai.

5.      Kontraksi uterus

Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan “kontraksi per 10 menit” di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi.

Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dengan mengisi angka pada kotak yang sesuai.

6.     Obat – obatan dan cairan yang di berikan

Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat oksitosin, obat – obat lainnya dan cairan IV.

a.       Oksitosin

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah di mulai, dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin yang di berikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit.

b.      Obat – obatan lain dan cairan IV

catat semua pemberian obat – obatan tambahan dan atau cairan IV dalam kotak yang sesuai dengan kolom waktunya.

7.      Kesehatan dan kenyamanan ibu

Bagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan keehatan dan kenyamanan.

a.       Nadi, tekanan darah, dan temperature tubuh.

Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu.

(1)    Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan.

(2)    Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan.

(3)    Nilai dan catat temperature tubuh ibu (lebih sering jika meningkat, atau di anggap adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperature tubuh dalam kotak yang sesuai.

b.      Volume urine, protein atau aseton

Ukur dan catat jumlah produksi urine ibu sedikitnya setiap 2 jam ( setiap kali ibu berkemih).

8.      Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya

Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik disisi luar kolom partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.

Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik mencakup :

a.       Jumlah cairan peroral yang di berikan.

b.      Keluhan sakit kepala atau penglihatan (pandangan) kabur.

c.       Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (dokter obsgyn, bidan, dokter umum).

d.      Persiapan sebelum melakukan rujukan.

e.       Upaya rujukan.

Pencatatan pada lembar belakang partograf :

Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal – hal yang terjadi selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan – tindakan yang di lakukan sejak pesalinan kala I hingga IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian ini di sebut sebagai cataatn persalinan. Nilai dan catatkan asuhan yang di berikan pada ib u dalam masa nifas terutama selama persalinan kala IV untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai. Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan klinik, terutamam pada pemantaun kala IV (mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan). Selain itu, catatan persalinan ( yang sudah di isi dengan lengkap dan tepat) dapat pula di gunakan untuk menilai atau memantau sejauh mana telah di lakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang bersih dan aman.

c.    Asuhan kala II

Menurut depkes RI ( 2008) asuhan persalinan normal (58 langkah) adalah sebagai berikut:

1.      Mengamati tanda dan gejala kala II

a)      Ibu mempunyai keinginan untuk meneran.

b)      Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rectum dan atau vaginanya.

c)      Perineum menonjol.

d)     Vulva, vagina dan spingter anal membuka.

2.      Menyiapkan pertongan persalianan

a)     Memastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat – obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk asfiksia → tempat dan datar dan keras, 2 kain dan 1 handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.

Ø  Menggelar kain diatas perut ibu dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi.

Ø  Menyiapkan antitoksin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.

b)      Memakai celemek plastic

c)      Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang di pakai, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan tisu atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

d)     Memakai sarung tangan DTT pada tahun yang akan di gunakan untuk periksa dalam.

e)      Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril, pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alt suntik).

3.    Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik

a)      Membesihkan vulva dan perineum, dengan hati – hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kassa yang di basahi air DTT.

Ø  Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama dari arah depan kebelakang.

Ø  Bungkus kapas atau kasa pembersih ( terkontaminasi ) dalam wada yang tersedia.

Ø  Ganti sarung tangan jika terkontaminasi ( dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin, 0,5 % → langkah #9 ).

b)      Melakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap.

Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi.

c)      Dekontaminasi sarung tangan dengan cara menyelupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5 % kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan 0,5 % selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan di lepaskan.

d)     Memeriksa DJJ setelah kontraksi atau saat relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal ( 120 – 160 x/menit ).

Ø  Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.

Ø  Mendokumentasikan hasil hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil – hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.

4.   Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran.

a)      Memberitahukan bahwa pembukaan sudah lengkap an keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya.

Ø  Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) da dokumentasika semua temuan yang ada.

Ø  Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana pern mereka untuk mendukung dan member semanat pada ibu untuk meneran secara benar.

b)      Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran (bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, dan ibu ke posisi setengah duduk atau posisisi lain yang di inginkan dan pastikan ibu merasa nyaman).

c)      Melaksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran :

Ø  Membimbing ibu agar dapat meneran seara benar dan efektif.

Ø  Mendukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai

Ø  Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesui pilihannya ( kecuali posisi berbaring, terlentang dalam waktu yang lama ).

  • Menganjurkan ibu untuk istirahat di antara kontraksi.

Ø  Menganjurkan keluarga member dukunga dan semangat untuk ibu

Ø  Memberikan cukup asupan cairan peroral ( minum).

Ø  Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.

Ø  Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah 120 menit (2 j2m) menean (primigravida) atau 60 menit ( 1 jam) meneran (multigravida).

d)     Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau me gambil possisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.

5.   Menyiapkan pertongan kelahiran bayi

a)      Meletakkan handuk bersih ( untuk meneringkan bayi ) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.

b)      Meletakkan kain bersih yang di lipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.

c)      Membuka tutup parus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.

d)     Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

e)      Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka lindungi perinem dengan 1 tanagan yang di lapisi dengan kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahahn kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepal. Anjurkan ibu untuk meneran perlahan atau bernafas cepat dan dangkal.

f)       Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan yang sesui jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan proses kelahiran bayi.

Ø  Jika tali pusat meliliti leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.

Ø  Jika tali pusat meliliti leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat dan potong di antara 2 klem tersebut.

g)      Menunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.

h)      Melahirkan bahu

Setelah kepalka melakukan putaran paksi luar, pegang secara bipareintal. Anjurkan ibu untuk meneran saat berkontraksi. Dengan lenbut gerakan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.

i)        Melahirkan badan dan tungkai

Ø  Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah kea rah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas.

Ø  Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki (masukan telunjuk antara kaki dan pegang masing – masing mata kaki dengan ibu jari dan jari – jari lainnya).

6.   Penanganan bayi baru lahir

a) Melakukan penilaian ( sepintas ) :

Ø  Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan ?

Ø  Apakah bayi bergerak dengan aktif ?

b)      Mengeringkan tubuh bayi

Mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk atau kain yang kering. Biarkan bayi di atas perut ibu.

c)      Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada  lagi bayi dalam uterus (janin tunggal).

d)     Member ibu bahwa ia akan di suntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik.

e)      Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosi 10 unit im (intra muskuler) di 1/3 paha atas bagian distal laterl (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).

f)       Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira – kaira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.

g)      Memotong dan mengikat tali pusat.

Ø  Dengan 1 tangan, pegang tali pusat yang telah di jepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat di antara 2 klem tersebut.

Ø  Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya denan simoul kunci pada sisi lainnya.

Ø  Melepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah di sediakan.

h)      Meletakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi.

Letakkan bayi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi sehinng bayi menempel di dada atau perut ibu. Usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari putting payudara ibu.

i)        Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi.

d.   Asuhan kala III

Menurut depkes RI ( 2008 ) melekukan manajmen aktif kala III meliputi :

1.   Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 – 10 cm dari vulva.

2.   Meletakkan 1 tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.

3.   Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kea rah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus kearah belakang-atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri) jika plasenta tidal lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontrksi berikutnya dan ulangi prosedur di atas.

  • Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk melekukan stimulasi putting susu.

4.   Mengeluarkan plasenta

a)      Melakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kea rah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetaplakukan tekanan dorso-kranial).

ika tali pusat bertambah panjanng, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10cm dari vulva dan lahirkan plasenta.

b)      Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin kemudaian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah di sediakan.

c)      Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakuakan masase uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras).

5.   Menilai perdarahan

a)      Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta ke dalam kantong plastik atau tempat khusus.

b)      Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.

Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan.

6.   Melakukan prosedur pasca persalinan

a)      Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.

b)      Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.

Ø  Sebagian besar bayi akn berhasil melekukan insiasi menyusu dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama basanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup menyusu dari satu payudara.

Ø  Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu.

c)      Setelah 1 jam, lakukan penimbangan atau pengukuran bayi, beri tetes mata anti biotic profilaksis, dan vitamin K1, 1 mg im dip aha kiri anterolateral.

d)     Setelah 1 jam pemberian vit. K1, berikan suntikan imunisasi Hepatitis B dipaha kana anterolateral.

e)      Meletakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu waktu bias di susukan. Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi beleum berhasil menyusu di dalam 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu.

7.   Evaluasi

a)      Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perarahan pervahinam.

Ø  2 sampai 3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.

Ø  Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan.

Ø  Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan.

Ø  Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan s=asuhan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri.

b)      Mengajarkan ibu atau keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.

c)      Evaluasi dan estimasi jmlah kehilangan darah.

d)     Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 mnit selama jam ke-2 pasca persalian.

Ø  Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam selema 2 jam pertrama pasca persalinan.

Ø  Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

e)      Memeriksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-60 x/menit) serta suhu tubuh normal ( 36,5-37,5 ).

8.   Kebersihan dan keamanan

a)      Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dkontaminasi.

b)      Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.

c)      Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.

d)      Memastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan keluarga unntuk member ibu minuman dan makanan yang di inginkannya.

e)      Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klotin 0,5 %.

f)       Celupkan kain tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%. balikkan bagian dalam ke luar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

g)      Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air yang mengalir.

9.   Dokumentasi

Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital dan asuhan kala IV.

e.    Asuhan kala IV

Menurut depkes RI (2008) pemantauan pada kala IV meliputi :

1.      1 jam pertama setip 15 menit yang di nilai yaitu :

Ø  Tekanan darah

Ø  Nadi

Ø  Suhu

Ø  Tinggi fundus uteri

Ø  Kontraksi uterus

Ø  Kandungan kemih

Ø  Perdarahan

2.      1 jam kedua setiap 30 menit yang di nilai yaitu :

Ø  Tekanan darah

Ø  Nadi

Ø  Suhu

Ø  Tinggi fundus uteri

Ø  Kontraksi uterus

Ø  Kandungan kemih

Ø  Perdarahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s